Diskomfotiks Rohil - Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Riau, Panji Achmad, menyampaikan laporan komprehensif mengenai kondisi inflasi nasional dan regional dalam Rapat Koordinasi Mitigasi dan Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi Provinsi Riau. Dalam forum yang turut dihadiri unsur Forkopimda, para kepala daerah, pimpinan instansi vertikal, serta jajaran OPD tersebut, ia mengemukakan bahwa keterlambatannya memasuki ruang sidang disebabkan agenda penandatanganan nota kesepahaman bersama Kapolda Riau mengenai tata kelola penanganan uang dan sistem pembayaran di wilayah Riau sebuah langkah strategis yang diklaim telah berjalan secara efektif.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Riau, Panji Achmad
Panji memaparkan bahwa secara nasional, inflasi pada November 2025 tercatat sebesar 0,17 persen atau mencapai 2,72 persen. Kenaikan tersebut dipicu oleh melonjaknya harga emas perhiasan yang telah mengalami tren peningkatan selama 27 bulan berturut-turut, serta tarif angkutan udara yang memberikan tekanan tambahan pada kelompok transportasi. Pada bulan yang sama, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga menyumbang tekanan inflasi, terutama melalui komoditas bawang merah dan wortel.
Sementara itu, Provinsi Riau pada November 2025 justru mengalami deflasi sebesar 0,22 persen, lebih rendah dibandingkan deflasi bulan sebelumnya yang mencapai 0,06 persen. Secara kumulatif, inflasi tahunan Riau dari Januari hingga November 2025 berada pada level 3,63 persen dan 4,72 persen, sedikit berada di atas target inflasi nasional sebesar 2,5 ±1 persen. Penurunan harga cabai merah, jengkol, petai, kentang, serta produk sabun berkontribusi signifikan terhadap deflasi tersebut. Namun demikian, sejumlah komoditas seperti bawang merah, tarif angkutan udara, emas perhiasan, ayam hidup, dan daging ayam ras mengalami kenaikan harga sehingga menahan pelemahan inflasi secara lebih dalam.

"Emas perhiasan tetap menjadi komoditas paling konsisten mendorong inflasi di seluruh kabupaten/kota, sementara daging ayam ras turut memberikan tekanan pada beberapa wilayah di Provinsi Riau," kata Panji saat memberikan pemaparan yang dihadiri Bupati Rokan Hilir, H. Bistamam, dalam Rapat Koordinasi Tindak Lanjut Arahan Presiden Republik Indonesia mengenai mitigasi bencana hidrometeorologi serta High Level Meeting Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Riau bersama pemerintah kabupaten dan kota se-Provinsi Riau. Pertemuan strategis ini juga membahas kesiapan daerah dalam menyongsong Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru yang dilaksanakan di Balai Serindit, Pekanbaru, Senin (8/12/2025).
Simak Juga Video Dibawah ini
Ia memproyeksikan bahwa inflasi Riau sepanjang 2025 akan tetap terkendali pada rentang 2–9 persen ±1 persen, meskipun lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya. Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh dinamika bencana alam di Sumatera yang merupakan sentra pemasok bahan pangan, serta tren perbaikan harga komoditas global.
Dalam konteks suplai pangan, Panji menyoroti kerentanan Riau akibat ketergantungan pada pasokan cabai dari Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh tiga wilayah yang saat ini terdampak bencana. Ia menegaskan pentingnya diversifikasi sumber pasokan, termasuk membuka akses suplai dari Jawa untuk menjamin ketersediaan bahan pangan menjelang akhir tahun.

Ia kemudian menguraikan beberapa rekomendasi strategis pengendalian inflasi daerah. Pertama, menjaga keterjangkauan harga melalui pelaksanaan operasi pasar, pasar murah, gerakan pangan murah, serta sanitasi pasar tani, terutama memasuki musim hujan yang berpotensi menurunkan produksi. Kedua, memperkuat stabilitas harga dan ketersediaan pasokan pangan utama seperti beras, minyak goreng, aneka cabai, bawang, daging ayam, dan telur. Ketiga, mendorong peran strategis BUMD sebagai offtaker bagi petani lokal dengan memanfaatkan fasilitas cold storage untuk menjaga kualitas komoditas. Keempat, mengoptimalkan jaringan informasi KAD Riau dengan para produsen pangan di luar daerah terdampak bencana. Kelima, mengelola ekspektasi publik melalui komunikasi risiko yang efektif, termasuk edukasi konsumsi bijak dan pemastian ketahanan pasokan.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga kelancaran distribusi pangan, termasuk melalui fasilitasi diskusi dan koordinasi lintas daerah, optimalisasi pola tanam adaptif, serta percepatan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah dan stabilitas harga. Dengan sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang dipimpin Gubernur Riau, Panji optimistis inflasi akhir tahun tetap berada dalam rentang sasaran nasional.
Hadir dalam Rakor tersebut, seluruh Unsur Forkopimda se Provinsi Riau, Bupati dan Walikota Se Provinsi Riau, kepala OPD Se Provinsi Riau, Kepala Perwakilan BMKG, Bank Indonesia,
Oleh : Amrial
Lokasi Kegiatan
Rapat Koordinasi
Gallery Foto
Rapat Koordinasi
Toko UMKM Rohil
Pesan via WhatsApp